Sabtu, 09 Februari 2008

Kenapa Sepakbola Selalu berakhir Tawuran ya?

Sepakbola memang bisa digunakan sebagai media untuk membangun nilai-nilai positif di masyarakat. Kalo kita maen bola, maka harapannya badan kita jadi sehat.

Waktu itu tahun 80-an, umur saya masih 10 tahun, sebuah klub sepakbola kampung saya dirikan. Anggotanya adalah anak-anak dari sebuah gang di Jojoran Surabaya.
Tempat latihan kami buat di sebuah lapangan kosong, bekas sawah yang sudah tidak dipakai karena irigasinya terputus oleh kaplingan rumah. Kami anak-anak umur 8-11 tahun gotong royong membersihkan dari tanaman perdu dan sisa padi yang masih tumbuh.
Garis lapangan kami buat dengan tali rafia (jadi kalo maen kadang-kadang kesandung dan putus). Gawang kami bikin dari kayu sisa bangunan yang dipaku seadanya.

Kegiatan kami bertanding antar gang atau antar kampung dalam bentuk friendly match, taruhan Rp.250-500,- yang didapat urunan para pemain (rokok bentoel remaja masih seharga Rp.150,-)
Kalo musim 17-an, biasanya banyak kompetisi berhadiah kambing, kita selalu mencoba ikut. Biaya pendaftaran biasanya kita urunan, sisanya kita minta tambah dari bapak. Kostum kita juga bikin dengan urunan, beli kaosnya di pasar Kapasan, trus dipilox nama Club di bagian depan dan nomor punggung di belakang. Gak sadar, kita belajar mengorganisasi sebuah klub sepakbola. Betul-betul kita swadaya, gak pake APBD.

Pada era itu lagi hebat-hebatnya Samsul Arifin, atau jamannya Anak Agung Rae Bawa di Niac Mitra. Jamannya Sinyo Aliandoe membawa timnas PSSI lolos Pra Piala Dunia, sebelum kalah dari Korea Selatan. Juga jamannya Iswadi Idris ada di Perkesa 78.

Pada masa itu gaya sepakbola masih bermain individu, pemain akan dipuja-puja jika bisa menggiring bola meliuk-liuk dari lini belakang sampai depan. Tidak seperti sekarang, yang disebut sepakbola moderen, kolektifitas dan kerjasama tim.

Saya jadi ingat kalo Perkesa 78 maen di Tambaksari, lapangan selalu ramai karena hampir semua pemain perkesa (termasuk pelatihnya) berteriak minta bola karena ada pemain terus meliuk-liuk tidak mau mengumpan atau menedang ke gawang. Iswadi Idris, selain jadi pelatih dia juga merangkap jadi pemain.

Hampir semua pertandingan yang diadakan di Tambaksari saya selalu diajak oleh bapak untuk menonton. Berangkat dari rumah jam 14.00, sampai di stadion jam 15.00, pertandingan dimulai jam 15.30. Kalo lagi tengah bulan kita nonton di tribun timur (ekonomi) seharga Rp.500,- dan kalo lagi awal bulan bapak ngajak nonton di Tribun barat VIP biar gak kepanasan.

Kalo Persebaya atau Niac Mitra maen, stadion selalu penuh, tapi sangat jarang yang nekat masuk dengan cara mbonek. Paling pol mereka mboneknya adalah nonton dari stadion Persebaya yang ada di sebelah timur Tambaksari. Malah yang terlihat mbonek adalah para pedagang yang ngatrol dagangannya di tribun utara dan selatan.

Waktu itu terasa nyaman sekali nonton sepakbola. Yang saya heran kenapa waktu itu kok gak pernah ada tawuran seperti sekarang ya?

Tidak ada komentar: